Sejarah Kopi Hofland

Merk Kopi Hofland Subang dibangun oleh Sepasang Suami – Istri yaitu Miftahudin Shaf dan Hj. Dwi Mustika. Berawal dari tahun 2014, Miftahudin Shaf mendorong adanya rehabilitasi lahan gundul di Desa Cupunagara Subang, lahan yang berada di ketinggian 1000 – 1200 mdpl lahan yang dianggap rusak, lahan tidur dan terbengkalai. Miftah mengajak kepada para warga dan petani di Desa Cupunagara untuk menanam tanaman kopi.

Kenapa Kopi? Karena Kopi merupakan tanaman yang memiliki nilai ekologi yang baik, selain memiliki nilai ekonomi, pohon kopi juga berfungsi untuk merehabilitasi lahan gundul, menahan air dan membuat produktif lahan yang tidur dan terbengkalai.

Hasil kerja keras Miftah mendorong masyarakat Desa Cupunagara terbukti berhasil. Sistem kerjasama yang dilakukan Miftah dengan para petani dan PT. Perhutani di daerah tersebut menuai hasil yang lumayan memuaskan. Awalnya warga Desa Cupunagara yang menanam kopi robusta kini mengikuti jejak Miftahudin dengan menanam Kopi Arabica.

Untuk meningkatkan kesejahteraan para petani kopi, Miftahudin mewadahi para petani di Desa Bukanagara dengan mendirikan Koperasi Gunung Luhur Berkah. Koperasi ini berfungsi untuk menyediakan bibit tanaman kopi dan juga membeli hasil biji kopi yang dipanen para petani.

https://www.youtube.com/channel/UCyLuOay7u7iSlTujElmjtaw

Merk Kopi Hofland saat ini tengah didaftarkan oleh Miftahudin dan Sang Istri yang saat ini menjadi Direktur dari PT. Kopi Hofland Subang ke Dirjen HAKI Kementerian Hukum dan HAM untuk dipatenkan dalam Hak Merk Dagang milik PT. Kopi Hofland Subang.

Nama Hofland sendiri di Subang terisnpirasi dari Nama seorang Tuan Tanah di Subang yang berasal dari Inggris di zaman kolonial Belanda dan mendirikan PNT Land atau Pamanoekan an Tjiasem Landen. Di zaman itu, PNT Land diberikan hak otonomi khusus untuk mengelola dan mendirikan pemerintahan sendiri.

Tuan Hofland – Begitu dirinya dipanggil – dinilai memberikan kesejahteraan kepada warga pribumi yang mau bekerja di perkebunan milik PnT land, dengan memberikan upah yang cukup, bukan menerapkan sistem tanam paksa (cultuurstelsel) yang dilakukan oleh Pemerintah Kolonial Belandan dan VOC.

Bagikan artikel ini

Leave a Comment