Hikayat Kopi di Tanah Jawa

Akhir 1707, Gubernur Jenderal Joan van Hoorn (1704—1709) memberitahukan kepada De Heeren Zeventien bahwa dia telah membagikan tanaman kopi Arabica kepada beberapa bupati di sepanjang pantai Batavia sampai Cirebon.

“Dia membagikan itu hanya sekadar untuk kesenangan semata,” tulis Jan  Breman dalam Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa: Sistem Priangan dari Tanam Paksa Kopi di Jawa 1720—1870.

Namun beberapa waktu kemudian baru diketahui bahwa tanaman kopi Arabica sama sekali tidak cocok ditanam pada dataran rendah. Maka dicobalah generasi awal kopi Arabica dari Jawa itu ditanam di wilayah-wilayah pegunungan yang tanahnya kaya unsur vulkanik seperti Cianjur dan Kampung Baru (Bogor).

Pada 1711, Cianjur memanen hasil tanaman kopi Arabica yang pertama. Desebutkan oleh Breaman, saat itu Bupati Cianjur Raden Aria Wiratanu III berhasil menyetor hampir 100 pikul kepada VOC. Harga yang dia peroleh adalah 50 gulden perpikul ( 1 pikul=125 pon).

“Cukup lumayan, meskipun sangat sedikit dibandingkan dengan harga yang tercatat di pasaran Belanda,” ujar Breman.

Kendati demikian, kiriman kopi dari Cianjur berhasil memecahkan harga lelang tertinggi di Balai Lelang Amsterdam. Biji-biji hitam asal Jawa itu dianggap mutunya lebih baik dibanding barang sejenis yang berasal dari Mocha, Yaman.

Menurut Prawoto, keberhasilan itu membuka peluang bagi Belanda untuk tampil sebagai pemain utama dalam bisnis kopi yang tengah menggila saat itu di Eropa. Maka berduyun-duyunlah para pebisnis Belanda mengembangkan tanaman kopi Arabica di wilayah Cianjur dan sekitarnya.

“Di tahun 1723, terdapat lebih dari satu juta pohon kopi Arabica tumbuh di Kabupaten Cianjur,” tulis Mudrig Yahmadi dalam Sejarah Kopi Arabica di Indonesia.

Tiga tahun kemudian, Belanda semakin berjaya sebagai pengekspor kopi terbesar di dunia. Produk mereka dikenal oleh mancanegara sebagai Java Coffee (Kopi Jawa) yang sejatinya berasal dari tanah Cianjur di Priangan Barat.

Bagikan artikel ini
Pages: 1 2

Leave a Comment